# Tags
#Indonesia Growth

Rupiah Melemah ke Rp17.500 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Foto: unsplash/@mufidpwt

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan sempat menembus level Rp17.512 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg, pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya tekanan global dan aksi jual investor asing di pasar domestik.

Ekonom Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menjelaskan bahwa salah satu faktor utama pelemahan rupiah berasal dari aksi jual investor asing di pasar saham dan Surat Utang Negara menjelang pengumuman dari MSCI terkait pasar Indonesia.

Selain itu, tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz, juga dinilai memperkuat posisi dolar AS secara global. Kondisi tersebut membuat investor cenderung mencari aset aman berbasis dolar sehingga memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Faktor domestik juga turut memengaruhi pergerakan kurs. Tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor, terutama impor BBM dan minyak mentah, disebut menjadi salah satu penyebab meningkatnya permintaan valuta asing di dalam negeri.

Tidak hanya itu, musim pembagian dividen emiten juga dinilai berkontribusi terhadap pelemahan rupiah karena meningkatnya kebutuhan transfer valas kepada investor asing.

Myrdal memperkirakan jika kondisi global dan domestik belum membaik, rupiah berpotensi bergerak menuju level psikologis baru di kisaran Rp17.700 per dolar AS. Namun, ia menilai rupiah masih bisa kembali menguat apabila tensi geopolitik mereda dan harga minyak dunia turun.

Sementara itu, pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut ketidakpastian pasar global masih menjadi faktor utama yang membuat rupiah terus tertekan. Investor juga disebut masih menunggu keputusan MSCI terkait transparansi pasar saham Indonesia dalam beberapa hari ke depan.

Meski ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat tumbuh 5,61 persen secara tahunan, para analis menilai pertumbuhan tersebut belum cukup kuat untuk menopang penguatan rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.